Langsung ke konten utama

Curhatan Pejuang ASI Gagal, Mereka Tetaplah Seorang Ibu

"Hormon oksitosin akan deras terproduksi saat seorang ibu bahagia..." ~ Saya membaca sekilas beberapa artikel dan tulisan-tulisan singkat di media sosial soal ASI.
Sore beberapa hari kemarin, selepas event talkshow kecantikan di sebuah hotel bintang empat di Kota Malang, saya menemani Winda ngobrol dengan PR tuan rumah. Wanita 30an itu sangat dinamis dan penuh semangat. Rupanya dia baru saja menjadi ibu untuk pertama kalinya, dan sedang tenggelam dalam berbagai pertanyaan seputar ASI yang berkecamuk di otaknya. Setelah menyelesaikan pembahasan seputar pekerjaan, larut kemudian kami dalam cerita ibu menyusui.

Saya lalu terlempar mundur ke medio 10 tahun kemarin. Rangga lahir melalui proses persalinan normal dengan berat 3,55 kilogram dan panjang 51 sentimeter, tanpa ada drama di sekitarnya. Pembukaan pertama selepas salat Maghrib, dan sudah lengkap sepuluh, 12 jam kemudian. Hanya sempat kehabisan tenaga sejenak untuk mengejan, lalu kembali bersemangat setelah satu kecupan dari si ayah mendarat di kening, mempererat genggaman tangannya, dan berbisik, "Kamu kuat. Kamu pasti kuat."

Setelah semua berhasil dilewati, luka jahitan yang sembuh hanya dalam tiga hari, bisa menyusui dengan posisi yang tepat, luwes memandikan si bayi, rasanya? Bangga! Tentu saja ekspektasi digantung tinggi soal ASI. Berharap berkelimpahan dan bisa mencukupi kebutuhan buah hati, tentu jadi impian setiap ibu yang baru melahirkan. Tapi apa daya, di bulan ketiga tampaknya pabrik mandeg produksi. Berbagai cara dilakukan, tetap tak berhasil bikin lancar. Lalu mau apa?

Percayalah! Saya juga ingin bisa menyusui Rangga sampai usia yang dianjurkan kala itu. Sayangnya, karena harus kembali bekerja, kami harus berpisah dalam waktu yang lumayan lama setiap harinya. Sejak itu, makin hari produksi ASI saya makin menurun. Pompa dalam bentuk apapun sudah dicoba dan tak membuahkan hasil. Dedaunan dan kacang-kacangan yang dianjurkan nenek pun sudah dikonsumsi. Tapi apa daya? Tolong jangan judge saya tidak bahagia.

Baiklah kalau memang bahagia jadi salah satu faktor yang mempengaruhi produksi hormon oksitosin, mari kita aminkan saja. Bahagia atau tidak seorang ibu, saat dia kesulitan untuk memproduksi ASI, bukan berarti dia tak berusaha. Dalam blogwalking random, sering saya temukan artikel tentang bagaimana seorang ibu seharusnya berjuang sampai jumlah ASI-nya seperti milik ibu-ibu muda selebgram yang suka posting berbotol-botol perahan dalam freezer mereka. Semua ibu ingin begitu.

Tahukah bahwa bacaan-bacaan semacam itu justru bikin ibu minim ASI jadi makin tertekan? Mungkin beberapa orang bisa menjadikannya inspirasi dan dorongan untuk jadi pejuang ASI, tapi bagi yang sudah berjuang keras dan masih gagal, bukan berarti dia tak layak disebut ibu. Mereka ibu, seperti saya, meski kami menyerah kalah pada formula. Percayalah, kami pun sesungguhnya tak rela bayi kami menyusu botol. Tapi siapa yang akan bertanggung jawab jika berat badan bayi kami turun tak wajar, jauh di bawah angka seharusnya?

Maka sekali lagi, kami, para pejuang ASI yang gagal, tetaplah seorang ibu.
Selamat hari ibu, mbak PR. Tetap semangat meski terpaksa harus ngaduk formula!
Selamat hari ibu, kalian semua ibu dan para calon ibu!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wahai Employee! Jangan Resah Akan Tambahan Jobdesc dan Gaji yang Segitu-Gitu Melulu

Pernah ada masanya, saya benar-benar tak suka dengan ide 'Employee of The Month', 'The Best Employee', atau apalah itu namanya. Sebagai poseur, saya pun mengonsumsi (mentah-mentah) literasi kiri dan perlawanan. Dari yang pernah saya baca, ada yang mengatakan bahwa saat seseorang menjadi karyawan terbaik di tempat kerjanya, maka dinobatkanlah pula dia sebagai orang yang paling 'babu' dan gampang disetirnya. Saya pernah mengamini itu, dan merasa miris, kasihan, jika ada teman yang dapat penghargaan semacam yang saya sebut di atas.
Pernah ada masanya, saya ikut menyuarakan keresahan hati para employee lewat banyak media, termasuk media sosial yang pastinya bisa dibaca khalayak ramai. Soal kerjaan yang makin ditambah, tapi gaji segitu-gitu saja. Soal boss yang seenaknya perintah sana-sini, sedangkan dia (kelihatannya) jalan-jalan melulu. Soal buruknya management perusahaan yang (rasanya) merugikan pekerja level staff lapis bawah. Sedikit kesalahan mereka yang menc…

Ada yang Harus Dikorbankan dalam Tiap Pilihan, Goodbye (Again) KapanLagi Youniverse

Memutuskan untuk resign di tengah semangat yang masih super membara untuk bekerja, rasanya sedih. Sangat sedih. Namun kesedihan itu setara besarnya dengan keinginan untuk bisa punya anak. Dan kegalauan yang berkecamuk di dada ini sungguh bikin sesak, meski keputusan sudah diambil.
Ya, jika ingin proses kehamilan ini atau yang selanjutnya nanti lancar, saya diwajibkan untuk bedrest. Totally bedrest. Tak ada tawar-menawar untuk hal ini. Pilihannya hanya dua: tetap bekerja dan akan terulang lagi kehilangan-kehilangan lain, atau fokus mempersiapkan diri untuk punya anak.
Bukan tanpa alasan saya masih punya keinginan untuk bisa bekerja seperti biasa. Saya adalah tulang punggung keluarga bapak dan nenek. Satu-satunya yang bisa berdiri paling tegak saat harus menopang apapun di rumah. Saya juga masih ingin bisa membantu sekolah adik sampai kelar.
Namun... Mama mertua saya bilang, materi bisa dicari dengan berbagai cara selain harus ngantor setiap hari. Akan ada nanti rezeki dari lubang-luba…

Welcome 2018, I'm Ready To Rock and Roll

Benar adanya, orang kalau lagi bahagia itu lebih susah menuangkannya dalam bentuk apapun, termasuk rangkaian kata. Setelah diberi 2016 penuh tawa dari gunung ke lautan bareng teman-teman yang menyenangkan, 2017 ini masih juga diliputi gembira meski jarang beranjak dari tempat duduk, di rumah maupun di kantor. 2017 spektakuler! Sama spektakulernya seperti 2016. Thank God, semua luka di tahun-tahun sebelumnya sudah mengering, dan sembuh walau bekasnya tak akan pernah bisa hilang.
Tuhan begitu baik, menggantikan segala kecewa dengan begitu banyak berkah yang tiada henti-hentinya. Setelah di tahun 2016 dipertemukan dengan dia, dikenalkan lebih dekat, diuji ketahanan dan kesabaran, 2017 ini kami dipersatukan. Sujud syukur, karena menikah dengan Mas Gigih adalah salah satu keinginan yang saya tulis di awal tahun kemarin. Tanpa ekspektasi, hanya menyerahkan semua pada-Nya. Hanya mempercayakan segala mimpi-mimpi yang saya usahakan akan aman dan terkendali di tangan-Nya.
Bicara soal 2017, mun…