Langsung ke konten utama

Cemara

Pohon cemara kecil yang biasa dihias eyang kakung saat Natal tiba, suatu ketika dipindahkan dari dalam pot ke taman di halaman depan rumah. Dia tumbuh besar, semakin besar, dan besar sekali, sampai hampir setinggi rumah kami.

Setiap sore sehabis mandi, dengan jendela ruang tamu yang besar itu terbuka lebar, saya duduk di kursi yang paling dekat dengannya -jendela itu. Beberapa potong kue gabin dan teh manis hangat yang diseduhkan eyang uti, menemani saya menikmati sore.

Selalu ada burung gereja yang bermain di pucuk cemara. Dan pada suatu hari, saya baru menyadari kalau ternyata mereka membuat sarang di dalam situ -pohon cemara itu. Sungguh menarik dan membuat saya penasaran. Sampai pada suatu siang, tanpa sepengetahuan eyang uti tentunya, saya memanjat pagar untuk sekedar mengintip seperti apa sarang burung gereja itu.

Pohon cemara yang selalu mengisi hari-hari saya sejak kecil, dulu dia di dalam pot dan hanya setinggi bahu saya. Dia dipindahakan ke tanah yang lebih lapang hingga tumbuh besar sekali, tiga kali tinggi badan saya kala itu. Pohon cemara yang menambah kebahagiaan saya setiap Desember, meneduhkan burung-burung gereja dan telur-telurnya, dia menua. Pohon cemara itu menua, daunnya mulai cokelat, dan kemudian.... dia mati.

Papa menebangnya karena dia sudah tidak mungkin hidup lagi. Saya sungguh sedih kehilangan dia. Tapi saya tau, nggak ada yang selamanya di dunia ini. Segala makhluk hidup juga pasti mati. Dan dia -pohon cemara itu- sudah banyak berarti sepanjang hidupnya. Saya yakin dia pasti mati sambil tersenyum puas.

Saya pun ingin sepertinya...


Jatinangor, 19 Juni 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wahai Employee! Jangan Resah Akan Tambahan Jobdesc dan Gaji yang Segitu-Gitu Melulu

Pernah ada masanya, saya benar-benar tak suka dengan ide 'Employee of The Month', 'The Best Employee', atau apalah itu namanya. Sebagai poseur, saya pun mengonsumsi (mentah-mentah) literasi kiri dan perlawanan. Dari yang pernah saya baca, ada yang mengatakan bahwa saat seseorang menjadi karyawan terbaik di tempat kerjanya, maka dinobatkanlah pula dia sebagai orang yang paling 'babu' dan gampang disetirnya. Saya pernah mengamini itu, dan merasa miris, kasihan, jika ada teman yang dapat penghargaan semacam yang saya sebut di atas.
Pernah ada masanya, saya ikut menyuarakan keresahan hati para employee lewat banyak media, termasuk media sosial yang pastinya bisa dibaca khalayak ramai. Soal kerjaan yang makin ditambah, tapi gaji segitu-gitu saja. Soal boss yang seenaknya perintah sana-sini, sedangkan dia (kelihatannya) jalan-jalan melulu. Soal buruknya management perusahaan yang (rasanya) merugikan pekerja level staff lapis bawah. Sedikit kesalahan mereka yang menc…

Welcome 2018, I'm Ready To Rock and Roll

Benar adanya, orang kalau lagi bahagia itu lebih susah menuangkannya dalam bentuk apapun, termasuk rangkaian kata. Setelah diberi 2016 penuh tawa dari gunung ke lautan bareng teman-teman yang menyenangkan, 2017 ini masih juga diliputi gembira meski jarang beranjak dari tempat duduk, di rumah maupun di kantor. 2017 spektakuler! Sama spektakulernya seperti 2016. Thank God, semua luka di tahun-tahun sebelumnya sudah mengering, dan sembuh walau bekasnya tak akan pernah bisa hilang.
Tuhan begitu baik, menggantikan segala kecewa dengan begitu banyak berkah yang tiada henti-hentinya. Setelah di tahun 2016 dipertemukan dengan dia, dikenalkan lebih dekat, diuji ketahanan dan kesabaran, 2017 ini kami dipersatukan. Sujud syukur, karena menikah dengan Mas Gigih adalah salah satu keinginan yang saya tulis di awal tahun kemarin. Tanpa ekspektasi, hanya menyerahkan semua pada-Nya. Hanya mempercayakan segala mimpi-mimpi yang saya usahakan akan aman dan terkendali di tangan-Nya.
Bicara soal 2017, mun…

365 Hari Bersama Superteam Knightwriters

Rasanya seperti baru kemarin saya duduk di hadapan Mbak Rita dengan setelan baju kantor yang super formal. Rasanya seperti baru kemarin juga Mbak Rita telepon malam-malam dan meminta saya masuk kerja keesokan harinya.

Hari ini, setahun sudah saya menginjakkan kaki untuk yang pertama kalinya di kantor KLC. Hari ini, setahun sudah saya menghidupi dan menghidupkan hidup di sini. Sebagian besar waktu dan pikiran saya adalah KLC.

Syukur yang tak berkesudahan, masih sama seperti syukur yang sempat saya torehkan di dinding kamar saya, setahun yang lalu. "Terima kasih Tuhan, saya bekerja di KLC!"

Pada kesempatan ini, rasa terima kasih saya yang tak terhingga, pertama saya tujukan pada Fajar McXoem dan Mbak Aik Nengbiker. Kalau bukan karena mereka berdua, mungkin saya tidak duduk di kursi ruang editor yang sangat nyaman itu.

Kemudian baru pada Mbak Rita yang sudah memutuskan untuk menerima saya dalam tim-nya. Senang rasanya punya tim yang sangat solid dan selalu berusaha bekerja dengan b…