Langsung ke konten utama

Postingan

Bukan Quarter Life Crisis, Drama Saya Justru Dimulai di 30

Bicara soal quarter life crisis, mungkin saya termasuk dalam barisan orang-orang yang tak sempat mengalaminya. Saya pertama kali bekerja saat usia menginjak 19 tahun. Gaji 300 ribu di tahun 2003 sudah bisa mencukupi biaya kos, katering harian, dan kirim uang untuk belanja bulanan di rumah nenek. Yap! Titik balik hidup saya berada di masa remaja yang seharusnya masa paling indah. Kakek meninggal setahun pasca pensiun, sehingga kebutuhan kami selama beberapa tahun bergantung pada tabungan sisa penjualan rumah besar yang sudah dibelikan rumah kecil. Usia 25 bukan lagi berisi kegalauan kapan lulus kuliah, karena saya menyelesaikan D2 setengah tahun lebih cepat dari mahasiswa lainnya. Usia 25 juga bukan momen di mana keluarga resah bertanya kapan saya akan menikah, karena di tahun itu saya sudah punya bocah kecil berusia 3 tahun. Usia 25 sudah jadi waktu-waktu yang biasa saja bagi saya. Pagi mengejar matahari untuk bikin film sablonan, siang menata papan-papan dan menempelkan kaos di atasny…
Postingan terbaru

Welcome 2018, I'm Ready To Rock and Roll

Benar adanya, orang kalau lagi bahagia itu lebih susah menuangkannya dalam bentuk apapun, termasuk rangkaian kata. Setelah diberi 2016 penuh tawa dari gunung ke lautan bareng teman-teman yang menyenangkan, 2017 ini masih juga diliputi gembira meski jarang beranjak dari tempat duduk, di rumah maupun di kantor. 2017 spektakuler! Sama spektakulernya seperti 2016. Thank God, semua luka di tahun-tahun sebelumnya sudah mengering, dan sembuh walau bekasnya tak akan pernah bisa hilang.
Tuhan begitu baik, menggantikan segala kecewa dengan begitu banyak berkah yang tiada henti-hentinya. Setelah di tahun 2016 dipertemukan dengan dia, dikenalkan lebih dekat, diuji ketahanan dan kesabaran, 2017 ini kami dipersatukan. Sujud syukur, karena menikah dengan Mas Gigih adalah salah satu keinginan yang saya tulis di awal tahun kemarin. Tanpa ekspektasi, hanya menyerahkan semua pada-Nya. Hanya mempercayakan segala mimpi-mimpi yang saya usahakan akan aman dan terkendali di tangan-Nya.
Bicara soal 2017, mun…

Selamat Jalan Bapak, Melati Sudah Lebih Kokoh Malam Ini

Lututku lemas saat terdengar pintu ruang ICU dibuka, dan Melati menghambur keluar sambil menangis. Aku tak kuasa melangkah mendekat, dan hanya sanggup berdiri kaku di dalam pelukan Winda, meremas keras bahunya. Tak berani pun aku melihat ke arah sahabatku yang sedang patah hati itu, karena air mataku juga sudah bercucuran.Malam-malam sebelumnya, Melati sempat ingin bertemu dan menghabiskan semalaman bersamaku, yang sayangnya di waktu yang sama, aku sudah punya agenda lain. Kami lalu hanya melanjutkan kabar-kabar terbaru lewat Whatsapp grup. Ada Winda di dalamnya, selain aku dan Melati. Grup super random yang hanya bicara soal makanan dan musik.Hampir jam 11 malam kemarin, Melati masih sempat berkabar, "Bapakku koma mbak."Aku dan Winda berusaha transfer kekuatan batin lewat rangkaian kata-kata manis untuknya, walau di balik itu, kami sama-sama khawatir. Mengingat riwayat sakitnya bapak sepanjang dua bulan terakhir, juga hal-hal tak biasa yang diceritakan Melati pada kami, ras…

Kuncinya Adalah...

Memasuki tahun ini, entah kenapa tiba-tiba banyak banget kenangan lama yang menyerbu masuk tanpa ampun. Bertemu lagi dengan Kak Sophie kemarin, bahkan tak pernah terlintas di benak saya. Kontak lagi sama teman SMA yang sudah belasan tahun tidak pernah bertemu, juga jadi kejutan awal 2017.Termasuk teman yang satu ini, yang pernah duduk sebangku di kelas 1 SMA. Yang selalu jujur tentang apapun menyangkut diri saya, termasuk soal rasa risihnya melihat baju seragam saya yang dibikin ketat dan roknya yang dibikin pendek ala-ala AADC. Dia juga yang jadi kakak, mas, yang melindungi dan selalu mengawasi dari jauh. Dia yang tahu persis, saya tak pernah menyerah pada beban hidup.Dia sedang berada di titik penuh keputusasaan saat ini. Semoga sedikit tips dan trik dari saya macam ini bisa dia terima dan coba lakukan. Dan semoga dia nggak mentah-mentah menganggap bahwa jadi miskin itu boleh. Woooi, kerja woi! Kalo mau hidup enak mah ada perjuangannya mas... Well, semoga dikasih lebih panjang sabar…

Romansa Masa Lalu dan Rencana Untuk Mikado

Hari ketiga di tahun 2017. Pagi-pagi Pak Djarot sudah sibuk di dapur. Saya masih leleyehan di tempat tidur, meski sudah buka mata sejak tujuh pagi. Tercium aroma tempe goreng yang bikin tubuh reflek bangkit melipat selimut. Membuka jendela kamar, kali ini saya tak langsung menyalakan dupa, meski sempat menekan tombol power di laptop. Sementara proses masuk Windows, saya keluar kamar dan bergegas menuju arah bau gurih itu.Tiba-tiba ayah saya itu nyeletuk, "Bikin sambel ageh (cepat, dalam bahasa Jawa)." Dan saya sempat melongo, karena biasanya saya justru yang minta dibuatkan sambal racikan beliau. Namun bergegas saya raih cobek dan ulegan, lalu segera memasukkan bahan sambal terasi ke dalamnya. Bikin sambal memang bagian dari masak-memasak yang paling mudah, tapi entah kenapa saya tak pernah bisa bikin sambel senikmat bikinan Pak Djarot.Bahan terakhir dimasukkan, setelah yang lain sudah saya lumat halus: tomat. Sempat bertanya pada ayah saya, apa tomatnya mau dihaluskan.  Seb…

Jangan Tanya 'Kapan?'

Hatinya entah kenapa terasa ringan dan bahagia hari ini. Pertama kali turun ke jalan di tahun 2017, saya langsung menuju Legipait yang mulai hari ini mencoba untuk buka pagi, dari jam 07.00 sampai jam 13.00, lalu lanjut lagi jam 16.00 sampai close order di jam 23.00. Ada janji sama Regina, ketemu untuk kasih kaos yang saya share di Instagram waktu lagi beres-beres almari. Kami datang kesiangan, tapi masih sempat ngobrol panjang sampai kedai ditutup.Bertemu dengan teman-teman yang sudah berkeluarga, mau tak mau bicaranya sedikit banyak ya seputar kehidupan rumah tangga, meski masih diselingi rerasan soal kabar-kabar yang belakangan marak beredar di media. Curhat colongan pun tak mau ketinggalan. Tentang bagaimana sedihnya saat ada yang menanyakan 'kapan' untuk hal-hal yang belum terwujud. Regina pun kadang tertekan saat ada yang nyeletuk, "Kapan punya baby?"Bukannya tak ingin, setiap pasangan yang sudah menikah juga pada umumnya mengharapkan kehadiran seorang anak. Te…

Rangkuman Akhir Tahun, Bekal Perjalanan Menuju Level Selanjutnya

2016 sudah habis masanya. Banyak hal yang dipelajari dari tiap bulannya yang berjalan. Dimulai dari awal tahun yang sangat berat dan nyaris bikin hati sekarat. Beruntung pelampiasan tepat saya dapat bersama teman-teman yang hebat dan bersahabat. 
PILIH YANG POSITIF
Januari. Pertama kali mendaki gunung -meski kata orang, Panderman hanya gunung kecil nan mudah didaki- dan berhasil menjejak puncak Basundara di tengah kabut tebal sisa hujan badai sepanjang perjalanan naik, tentu jadi hal hebat untuk mengawali tahun.
Tentang hidup yang tak akan berakhir hanya karena patah hati ditinggal kekasih, saya sudah tahu dan paham benar. Pelajaran pertama yang saya dapat di tahun 2016, soal ke mana kita akan mengarah setelah dirundung kecewa, larut sedih atau cari happy.
HAL BARU TIDAK ADA DI ZONA NYAMAN DAN AMAN
Anak pantai yang dibawa ke gunung, begitulah gambaran keadaan saya waktu itu. Dan anak pantai ini ternyata ketagihan naik gunung, lalu mulai ambil keputusan yang sudah empat tahun dipendam k…